MAKALAH ILMU PANGAN LANJUT
TEKNIK
PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN

OLEH :
KELOMPOK I
Kelas
I A
Ade
Yozha Ofalitna
Ayu
Ariani Safitri
Erny
Nelzzy
Fiki
Aulia
Gemantari
Nora Levya
Intan
Nurcahyani
Mentari
Adestya N
Nur
Asni
Reny
Ayu Indoka
Ririn
Marlina
Siska
Amelia
Ulfatmi
Okzala
Wike
Trima Yenti
Yona
Oktaviani
KEMENTRIAN KESEHATAN
JURUSAN GIZI POLTEKKES
PADANG
2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur
kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
serta hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
mata kuliah Ilmu Pangan Dasar dengan judul “Teknik Pengolahan Bahan Makanan ”
Dalam penulisan makalah
ini kami banyak menghadapi kesulitan dan hambatan tetapi berkat dorongan dan
dukungan dari teman-teman, sehingga kesulitan dan hambatan tersebut dapat
diatasi. Oleh karena itu,kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu kami sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan.
Akhir kata semoga
makalah ini dapat berguna bagi kami khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Namun walaupun makalah ini selesai tentulah masih banyak kekurangan hal ini
disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan yang kami miliki, oleh karena itu
kritik dan saran yang mengarah kepada perbaikan isi makalah ini sangat kami
harapkan.
Padang, 8 Maret 2014
Penulis
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini, kebutuhan manusia akan bahan pangan terus meningkat. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, bahan pangan juga harus ditingkatkan dalam
produksinya. Namun, justru inilah yang menjadi masalah. Umumnya
bahan pangan tidak dapat bertahan lama setelah dipanen. Banyak bahan
pangan yang memiliki waktu simpan yang relatif singkat. Untuk itu, saat
ini kita perlu lebih cerrmat dalam memperlakukan atau mengolah bahan pangan
agar memiliki waktu simpan yang lebih lama tanpa menghilangkan nilai gizi yang
terkandung di dalam makanan tersebut. Salah satu metode yang digunakan
adalah mengolah bahan pangan tersebut menjadi bahan pangan yang setengah jadi.
Bahan
pangan terutama bahan pangan hewani
bersifat mudah rusak (perishable), baik secara fisik, kimia, maupun
mikrobiologis. Pada saat
dipanen hingga siap dikonsumsi, bahan pangan tersebut banyak mengalami berbagai
proses pengolahan, misalnya pemanasan (penggorengan, perebusan, pembakaran,
pemanggangan), pendinginan,
pembekuan, fermentasi, dan pengeringan.Proses pengolahan pangan memberikan
beberapa keuntungan, misalnya memperbaiki nilai gizi dan daya cerna,
memperbaiki cita rasa maupun aroma, serta memperpanjang daya simpan.
Secara umum,
makanan merupakan bahan yang mudah mengalami proses kerusakan. Halini terlihat
jelas pada makanan lembab yang diketahui mengandung air cukup tinggi. Air yang
terkandung di dalam bahan dapat digunakan oleh mikroba untuk tumbuh dan
berkembangbiak.
Apabila tidak diberi perlakuan dengan cara
diolah, ,makanan
relatif cepat mengalami proses kerusakan. Proses kerusakan diawali penurunan kualitas dan
diakhiri dengan pembusukan. Proses kerusakan lebih dominan disebabkan oleh aktivitas
fisik dan kimiawi, sedangkan proses pembusukan lebih didominasi oleh kegiatan kimiawi
dan mikrobiologis. Kegiatan kimiawi selama proses pembusukan ditandai dengan
proses oksidasi yang menyebabkan ketengikan (rancidity) dan perubahan warna (browning) .
Namun dalam pengolahan makanan masyarakat tidak pernah
memperhatikan proses akan tetapi lebih cenderung memperhatikan hasilnya.
Apabila kita salah dalam pengolahan makanan tersebut maka akan mengakibatkan
berkurangnya kandungan vitamin, serta semua zat-zat yang terkandung dalam
makanan tersebut bahkan akan dapat menghilangkan semua kandungan dalam zat
makanan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan mencoba untuk menjelaskan
mengenai cara pengolahan bahan makanan yang baik.
1.2 Tujuan
- Mahasiswa
dapat memahami pengertian dan teknik pengolahan bahan makanan.
- Mahasiswa
dapat mengetahui berbagai jenis perlakuan dalam pengolahan makanan.
- Mahasiswa
dapat mengetahui perubahan yang terjadi akibat perlakuan dalam pengolahan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Teknik Pengolahan Bahan Makanan
Pengolahan makanan adalah kumpulan
metode dan teknik yang digunakan untuk mengubah bahan mentah menjadi makanan atau
mengubah makanan menjadi bentuk lain untuk konsumsi oleh manusia atau
hewan di rumah atau oleh industri pengolahan makanan.
Pengolahan makanan membutuhkan ladang bersih dan telah panen atau produk
hewan yang disembelih dan penjual daging
danmenggunakannya untuk memproduksi produk makanan menarik, dapat dipasarkan
dan tahan lama. Mengolah
juga merupakan suatu proses menangani
bahan makanan dari mentah menjadi bahan makanan siap saji yang dalam prosesnya
bisa terjadi penerapan panas maupun tidak. Dalam uraian ini bisa disimpulkan bahwa
tidak semua mengolah itu memerlukan panas, sebagai contohnya kalau kita
mengolah sayuran dalam bentuk terancam atau salad, mengolah buah-buahan menjadi
rujak. Beberapa teknik mengolaha
makanan :
a.
Merebus
Merbus
adalah memetangkan bahan makanan dalam cairan yang sedang mendidih (1000c)
dengan tujuan agar bahan makanan itu menjadi lunak. Dalam proses ini kematangan
juga harus ditentukan, tidak boleh terlalu lunak aaupun masih keras. Karena hal
ini akan membuat nilai gizinya berkurang
b.
Mengukus
Mengukus
adalah memasak bahan makanan dengan uap air panas.Bahan makanan diletakkan
dalam suatu tempat, lalu uap air disalurkan disekeliling bahan makanan yang
dikukus.
c.
Membakar
membakar
adalah memasak bahan makanan diatas lempengan besi panas yang diletakkan di
atas perapian.
d.
Menumis
Menumis
adalah mengolah bahan makanan dengan miyaksedikit sambil diaduk dan dilakukan
secara cepat. Teknik ini banyak dilakukan pada masakan cina, dan dipakai
sebagai teknik menyelesaikan pada masakan kontinental
e.
Menggoreng
Menggoreng
adalah memasak bahan makanan dengan minyak banyak hingga memperoleh hasil yang
crispy atau kering dan berwarna kecoklatan
2.2
Tujuan Pengolahan Bahan Makanan
a) Dengan mengolah makanan maka makanan akan mudah
dicerna dalam tubuh.
Misalnya, telur akan lebih baik
dicernakan oleh tubuh jika dimakan setrengah masak dari pada mentah. Demikian
juga dengan bahan makanan lainnya misalnya beras, sayuaran dan daging.
b) Memperbaiki aroma, warna, bentuk, dan tekstur bahan
makanan.
Misalnya daging yang kan digoreng akan
lebih harum daripada daging mentah. Demikian pula dengan membakar adonan bolu,
bahan makanan yang semula tidak mempunyai tekstur dan bentuk serta berwarna
kekuning-kuningan, setelah dibakar nampak berbentuk dan berwarna kuning
kecoklat-coklatan serta harum baunya.
c) Membebaskan makanan dari
jasad-jasad renik dan bahan-bahan yang membahayakan kesehatan
2.3
Mekanisme Pengolahan Bahan Makanan
•
Langkah
pengolahan
–
Pengadaan
–
Persiapan
–
Pengolahan
–
Distribusi
–
Penyimpanan
2.4 Jenis Perlakuan dalam Pengolahan Makanan
2.4.1 Suhu
A). Suhu Tinggi
- Tujuan meningkatkan cita rasa
A.
Pemasakan
Merupakan proses termal denagn tujuan utama untuk
meningkatkan ciata rasa produk pangan. Proses pemasakan meliputi berbagai
proses termal yang umum dilakukana pada skala rumah tangga, seperti perebusan,
pemanggangan, penggorenagan, penyangraian, dan metode lain yang mengguanakan
panas.
Pemasakan termasuk kedalam metode penganwetan karena
makanan yang matang umumnya dapat disimpan lebih lama pada kondisi pendinginan
yang tepat dibandingkan dalam kondisi mentahnya.
Pemasakan dapat mendestruksi atau menurunkan jumlah
mikroba dan menginaktivasi enzim-enzim yang tidak diinginkan. Selain itu,
toksin tertentu yang secara alami terdapat dalam baham makanan atau dari
mikroba kontaminan dapat didestruksi. Daya cerna meningkat karena proses
pemasakan. Perubahan lain yang terjadi adalah perubahan tekstur, warna, dan
cita rasa sesuai denagn yang diiginkan. Kerugian dari pemasakan adalah
kerusakan zat2 gizi yang tidak tahan panas.
Pemasakan dapat berupa :
·
Pembakaran/pemanggangan
·
Perebusan
·
Penggorengan
- Tujuan meningkatkan daya simpan
a. Blansing
Merupakan proses pemanasan suhu sedang dengan tujuan
inaktivasi enzim-enizm ksidatif dalam buah dan sayuran sebelum diolah leih
lanjut seperti pengalengan, pembekuan, dan pengeringan. Selain inaktivasi
enzim-enzim blansing mempunnyai fungsi lain, yaitu menghilangkan gas dalam
jaringan yang dpaat menjamin kondisi vakum pada pengalengan, meningkatkan suhu
produk, pencucian, melemaskan tekstur sehngga memudahkan proses pengisian
kaleng, dan dapat memperbaiki warna hijau sayuran.
Suhu dan lama blansing tergantung pada jenis dan
ukuran sayuran atau buah-buahan dan juga metode blansing yang diguankan.
Sebagai contoh, blansing denagan menggunakan teknik kejut panas (heat shock
technique) memerlukan waktu 10 sampai 30 detik, sedangkan metode blansing yang
lain memerlukan waktu 1 sampai 5 menit.
b. Pasteurisasi
Merupakan prose termal dengan sushu sedang (mild
heat treatment) yang diberikan pada produk pangan. Tujuan nya adalah membunuh
mikroba vegetative tertentu terutama pathogen dan inaktivasi enzim. Berhubung
proses pasteurisasi tidak mematikan semua mikroorganisme vegegtatif dan hamper
semua bakteri berbentu spora, produk hasil pasteurisasi harus dikemas atau
dsimpan dalan suhu rendah dengan penambahan pengawet, pengemasan atmosfer
termodifikasi (MAP= Modified Atmosphere Packaging), pengaturan pH atau
pengaturan aktivitas air untuk meminimumkan pertumbuhan mikroba.
1.
Low Temperatur Log Time (LTLT)
Suhu
63 ⁰ C selama 30 menit
2.
High Temperatur Short Time (HTST)
Suhu
72 ⁰ C selama 15 detik
c. Sterilisasi
Merupakan proses destruksi atau mematikan
mikroorganisme. Proses pemanasan yang digunakan dalam proses sterilisasi ini
tidak menghasilkan produk yang steril atau terbebas dari mikroorganisme karena
tidak semua mikroba mati pada proses sterilisasi ini, akan tetapi pengaturan pH
atau kondisi penyimpana produk, seperti vakum dan pendinginan dapat mencegah
pertumbuhan bakteri pembusuk dan penyebab keracunan makanan
d. Pengeringan
Pengeringan adalah salah satu teknik pengolahan bahan pangan dengan
menggunakan suhu tinggi. Prinsip dasarnya adalah mengurangi atau menghilangkan
kadar air bahan cara penguapan. Biasanya, kandungan air bahan tersebut di
kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di
dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume
bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan
dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan
transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah. Bahan
pangan yang biasa di olah dengan teknik pengeringan ini adantara lain:
tembakau, kopi, teh, biji-bijian, dll
B). Suhu Rendah
a. Pendinginan
Pendinginan adalah teknik
pengolahan bahan pangan dengunakan suhu rendah. Pendinginan dapat memperlambat
kecepatan reaksi metabolisme sehingga dapat memperpanjang masa hidup dari
jaringan-jaringan dalam bahan pangan tersebut. Teknik pengolahan bahan pangan
dengan pendinginan ini tidak dapat membunuh mikroba hanya memperlambat
pertumbuhannya saja.
b. Pembekuan
Teknologi
pembekuan makanan adalah teknologi
mengawetkan makanan dengan menurunkan temperaturnya
hingga di bawah titik beku air. Hal ini berlawanan dengan pemrosesan termal, di
mana makanan
dipaparkan ke temperatur tinggi dan memicu tegangan termal terhadap makanan,
dapat mengakibatkan hilangnya nutrisi, perubahan rasa, tekstur, dan sebagainya, atau pemrosesan kimia dan fermentasi
yang dapat mengubah sifat fisik dan kimia makanan. Makanan
beku umumnya tidak mengalami hal itu semua; membekukan makanan cenderung
menjaga kesegaran makanan. Makanan beku menjadi favorit konsumen
melebihi makanan kaleng atau makanan kering, terutama di
sektor hasil peternakan (daging dan produk susu), buah-buahan,
dan sayur-sayuran.
Hampir semua jenis bahan
makanan dapat dibekukan (bahan mentah, setengah jadi, hingga makanan siap
konsumsi) dengan tujuan pengawetan. Proses pembekuan makanan melibatkan
pemindahan panas dari produk makanan. Hal ini akan menyebabkan membekunya kadar air
di dalam makanan dan menyebabkan berkurangnya aktivitas
air di dalamnya. Menurunnya temperatur dan menghilangnya ketersediaan air
menjadi penghambat utama pertumbuhan mikroorganisme
dan aktivitas enzim
di dalam produk makanan, menyebabkan makanan menjadi lebih awet dan tidak mudah
membusuk. Keunggulan dari teknik pembekuan makanan adalah semua hal tersebut
dapat dicapai dengan mempertahankan kualitas makanan seperti nilai nutrisi,
sifat organoleptik, dan sebagainya.
Kerusakan bila suhu terlalu rendah :
- “Chilling Enjury” pada buah dan
sayur
- “ Cold Shortening” pada daging
- “ Stalling” pada roti
2.4.2
Fermentasi
Fermentasi adalah pengolahan bahan pangan dengan bantuan mikroba.
Fermentasi dapat terjadi karena adanya aktivitas mikroba penyebab fermentasi
pada media yag sesuai. Fermentasi dapat menyebabkan perubahan sifat bahan
pangan akibat pemecahan kandungan alami baha pangan menjadi unsur lain.
Contohnya: fermentasi karbohidrat adalah pemecahan karbohidrat menjadi gula
+ alkohol.
2.4.3
Pengasinan
Pengasinan adalah proses pengolahan bahan pangan dengan penambahan larutan
garam untuk mencegah dan membunuh mikroba. Pengolahan bahan pangan dengan
pengasinan dapat merubah rasa, aroma dan tektur bahan pangan. Contoh pengolahan
bahan pangan dengan teknik pengasinan antara lain: ikan asin, asinan buah,
asinan telur, dll
Pengalengan adalah suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara
hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam
suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua
mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk. Pengalengan secara hermetis
memungkinkan makanan dapat terhindar dan kebusukan, perubahan kadar air,
kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa
2.4.5
Pengemasan
Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi
untuk pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air.
Teknologi pengemasan perkembangan sangat pesat khususnya pengemas plstik yang
dengan drastic mendesak peranan kayu, karton, gelas dan metal sebagai
bahan pembungkus primer. Berbagai jenis bahan pengepak seperti tetaprak,
tetabrik, tetraking merupakan jenis teknologi baru bagi berbagai jus serta
produk cair yang dapat dikemas dalam keadaan qaseptiis steril. Sterilisasi
bahan kemasan biasanya dilakukan dengan pemberian cairan atau
uap hydrogen peroksida dan sinar UV atau radiasi gama.
Pengolahan identik dengan pengawetan. Bahan pengawet dari bahan kimia
berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk
dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna. Contoh beberapa jenis
zat kimia : cuka, asam asetat, fungisida, antioksidan, in-package desiccant,
ethylene absorbent, wax emulsion dan growth regulatory untuk
melindungi buah dan sayuran dari ancaman kerusakan pasca panen untuk
memperpanjangkesegaran masam pemasaran. Nitogen cair sering digunakan untuk
pembekuan secara tepat buah dan sayur sehinnga dipertahankan kesegaran dan
rasanya yang nyaman. Suatu jenis regenerasi baru growth
substance sintesis yang disebut morfaktin telah ditemuakan dan
diaplikasikan untuk mencengah kehilangan berat secara fisiologis pada pasca
panen, kerusakan karena kapang, pemecahan klorofil serta hilangnya kerenyahan
buah.
2.5
Perubahan
Akibat Perlakuan Dalam Pengolahan
Dalam Pengolahan Makanan, dapat terjadi perubahan pada :
1.
Fisik/Organoleptik
Beberapa perubahan
fisik/organoleptik yang terjadi dalam pengolahan :
- Panas
lembab pada pangan KH
tinggi mengakibatkan terjadi nya gelatinisasi
- Panas
lembab menyebabkan warna coklat
- Penambahan
asam maka kemampuan pembentukan gel dari pektin meningkat
- Pemasakan
menyebabkan daging mengkerut karena protein
otot terkoagulasi dan cairan daging yg keluar bersama dgn lemak memberi
flavor pd daging
- Pemasakan
mengakibatkan daging jadi empuk karena kolagen
dlm jaringan ikat berubah menjadi gelatin
- Penambahan
garam pada waktu
perebusan telur akan meningkatkan daya koagulasi protein putih telur
- Sayuran
dimasak akan menjadi lunak dan mudah dicerna karena pemecahan
dinding sellulosa dan gelatinisasi pati
2.
Kimia/Zat Gizi
Beberapa contoh perubahan kimia
maupun zat gizi yang terjadi akibat pengolahan :
o Protein
dapat terkoagulasi karena pemanasan, penambahan asam, enzim (renin), perlakuan
mekanis dan penambahan garam
o Thiamin
akan hilang sekitar 25% oleh adanya pemanasan dan kehilangan akan meningkat
bila digunakan substansi alkali seperti natrium bikarbonat pada pengolahan
o Riboflavin
akan berkurang bila pangan terkena sinar matahari langsung
o As.
Ascorbat paling mudah hilang selama pengolahan akibat larut air atau
teroksidasi
o Penggunaan
alat dari besi pada pengolahan pangan dapat meningkatkan kandungan besi dlm
makanan
o Bila
telur direbus terlalu matang akan terbentuk warna kehitaman sekeliling kuning
telur disebabkan terbentuk senyawa besi sulfida
o Pemasakan
dapat mengurangi zat anti gizi dalam makanan
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Pengolahan makanan adalah kumpulan
metode dan teknik yang digunakan untuk mengubah bahan mentah menjadi makanan atau mengubah
makanan menjadi bentuk lain untuk konsumsi oleh manusia atau
hewan di rumah atau oleh industri pengolahan makanan.
Pengolahan makanan membutuhkan ladang bersih dan telah panen atau produk
hewan yang disembelih dan penjual daging
danmenggunakannya untuk memproduksi produk makanan menarik, dapat dipasarkan
dan tahan lama. Mengolah
juga merupakan suatu proses menangani
bahan makanan dari mentah menjadi bahan makanan siap saji yang dalam prosesnya
bisa terjadi penerapan panas maupun tidak.
3.2
Saran
Dengan adanya makalah ini, penulis berharap bisa membantu
para pembaca mengetahui apa itu pengolahan bahan makanan beserta teknik –
teknik pengolahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Teti Estiasih, S.
d. (2009). TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN . Jakarta: PT Bumi Aksara.
Minantyo Hari. 2011 . Dasar – Dasar
Pengolahan Makanan . Surabaya: Graha Ilmu
Auliana, Rizqie. 1999 . Gizi dan Penggolahan Pangan,. Yogyakarta: Mitra Gama Widya
Winarno, F.G.. 1992. Kimia
Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utam
Fareliaz, Srikandi. Mikrobiologi Pangan, jakarta; Gramedia
pustaka